Hello Summer
Hello Summer
Menceritakan seorang pemuda bernama Isaiah yang sedang menikmati liburan musim panasnya di sebuah kota kecil di Colorado, AS. Isaiah berlibur sendirian dikarenakan orang tuanya yang tidak bisa ikut karena suatu pekerjaan, karena itulah ia menetap di rumah neneknya. Isaiah sendiri juga memiliki hobi yang unik ia senang mendengar musik lewat kaset pita dan piringan hitam, setiap kali ia berpergian ia selalu membawa perekam kaset yang diberikannya oleh Ayah-nya. Saat ini Isaiah memiliki lima hari lagi sebelum ia mengakhiri liburannya dan menjalani hidupnya yang monoton kembali, ia pun berfikir untuk membeli kaset pita dari toko musik di kota itu. Saat ia ingin membeli kaset pita di toko musiik di kota itu, ia bertemu dengan wanita di kasir yang menjadi pegawai toko tersebut, wanita itu tertarik dengan selera musik Isaiah yang sama dengan diri-nya. Mereka berbincang bincang tentang hobi mereka, perbincangan ini memantik banyaknya lagi pertemuan Isaiah dengan wanita tersebut. Isaiah menanyakan siapa nama wanita tersebut, wanita itu hanya menjawab "Hai namaku Summer, Salam kenal.", Isaiah menjawabnya sambil bersalaman " 'Halo Summer' , namaku Isaiah". Bagaimana kelanjutan ceritanya dan bagaimana pertemuan mereka selanjutnya ?.
Bab I
"Hello Summer"
Pemandangan berbagai pegunungan Colorado yang terlihat sepanjang jalan, Hari itu cuaca di Colorado tampak mendung awan gelap menghiasi langit pada saat itu, Isaiah terlihat merenungkan sesuatu sambil melihat keluar dari kaca bus yang ia tumpangi "Lima hari lagi aku akan pulang ke rumah dan menjalani hari hari ku yang biasa saja di perkotaan, hmph.. aduh pasti akan banyak sekali tugas selesai liburan...". sambil ia melihat jalan yang perlahan dibasahi oleh rintik rintik hujan, ia sadar bahwa toko musik-nya ada di pemberhentian selanjutnya, tak berlangsung lama bunyi pemberitahuan stasiun berbunyi " Pemberhentian selanjutnya Snowden St ". Isaiah beranjak dari kursinya berdiri didepan pintu bus, "psshh" pintunya terbuka, ia keluar dari bus yang ia tumpangi sejenak ia melihat keatas langit yang terlihat gelap wajahnya dibasahi oleh rintikan air, rintik-rintik itu pun berubah perlahan menjadi hujan lebat.
Ia bergegas menuju toko musik yang berada didepan tempat pemberhentian bus yang ia tumpangi, memasuki toko tersebut Isaiah melihat ke sekitarnya dan tidak mendapatkan seseorang kecuali para pegawai yang sedang mengemas barang. Ia menelusuri sepanjang koridor mencari vinyl lagu yang ia cari, saat ia berjalan ia bertanya kepada salah satu pegawai disana "Permisi, genre musik indie dimana ya?", pegawai itu mengarahkan Isaiah menuju ke satu rak yang berisikan vinyl musik yang Isaiah cari sebelum Isaiah mengucapkan terimakasih pegawai itu berjalan meninggalkannya. di rak itu ada berbagai musisi bergenre 'Indie', Isaiah mengambil vinyl album yang berjudul 'RMCM' keluaran musisi ' Richy Mitch & The Coal Miners' sambil mengambil vinyl tersebut. Selain vinyl 'RMCM' ia juga mengambil beberapa vinyl yang ber-genre serupa, ia berjalan menuju kasir dengan vinyl yang ia genggam di tangan-nya.
Wanita yang berjaga di kasir itu melihat vinyl-vinyl yang Isaiah ambil. Isaiah meletakkan vinyl itu di meja kasir, sambil mengambil vinyl wanita itu tampak tertarik dengan vinyl yang dipilih Isaiah "Wow selera musik mu lumayan menarik, menurut saya sendiri ini album terbaik dari 'Ritchy Mitch & The Coal Miners' dan menjadi debut yang spektakuler bagi mereka, selain itu Wow.. 'Wanita itu terkejut' kau juga suka 'The Smith' mungkin saja selere musik kita sama" cakap wanita itu sambil tertawa kecil. Isaiah menjawab nya hanya dengan senyuman, mereka mengobrol tentang selera musik mereka, hobi mereka, tak sadar perbincangan itu berlangsung lumayan lama sampai hujan diluar reda Isaiah menengok keluar jendela dan melihat hujan nya yang sudah reda.
Isaiah akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah neneknya, sebelum itu Isaiah bertanya " Tak sadar kita berbincang sampai hujannya reda, kalau begitu aku harus pulang, oh ya apakah aku bisa mengetahui siapa nama-mu? " sambil menyodorkan tanggan nya, wanita itu membalas nya sambil menggenggam tangan Isaiah untuk bersalaman " Hai!, namaku Summer salam kenal, kalau begitu siapa namamu? " Isaiah melepaskan genggaman tangannya dan mengangguk "Halo Summer nama ku Isaiah salam kenal juga". Setelah berkenalan Isaiah berjalan meninggalkan meja kasir sambil melambaikan tangannya , di luar terlihat langit yang sedikit masih mendung walau hujannya sudah reda sambil melihat langit dan merenung Isaiah duduk di halte sambil menunggu bus yang datang dalam renungannya Isaiah mungkin saja menemukan sosok yang ia sukai walau baru bertemu.
Bab II
"Thank You Summer"
Hari berikutnya, saat matahari mulai menyinari kota kecil itu, Isaiah memutuskan untuk kembali ke toko musik. Meski ia tahu bahwa waktu liburannya hanya tersisa empat hari lagi, ia merasa ada hal yang lebih penting daripada sekadar membeli kaset pita. Setibanya di toko, Summer menyambutnya dengan senyum hangat.Kembali lagi?” tanya Summer sambil tersenyum, dengan sedikit canda di suaranya, Isaiah tertawa kecil, “Sepertinya begitu. Sebenarnya, aku cuma ingin berbincang lagi tentang musik.” Percakapan mereka mengalir dengan mudah, mulai dari selera musik favorit hingga kenangan Isaiah tentang perekam kaset dari ayahnya. Summer juga menceritakan bagaimana ia tumbuh mendengarkan piringan hitam milik orang tuanya, dan betapa ia mencintai suara yang dihasilkan dari media musik analog. Dalam obrolan mereka, Isaiah merasa ada kesamaan yang kuat di antara mereka, ketertarikan yang mendalam pada musik dan benda-benda antik, sesuatu yang jarang ditemuinya di orang lain, "Musik analog itu seperti jendela ke masa lalu," kata Summer sambil menatap jauh ke rak-rak piringan hitam di toko. "Setiap goresan di piringan hitam atau pita kaset menceritakan sesuatu. Itu yang membuatnya istimewa, ketidaksempurnaan yang membuatnya hidup."
Isaiah setuju sepenuh hati. Baginya, kaset pita yang ia bawa selalu menjadi pengingat akan hubungan eratnya dengan ayahnya, bagaimana mereka berdua menikmati musik bersama. Namun, hari ini, percakapan mereka terasa lebih personal, seolah mereka sedang berbagi bagian-bagian kecil dari diri mereka yang jarang dibagikan ke orang lain. Setelah beberapa saat, Summer tiba-tiba terdiam. Ia menatap Isaiah dengan senyum lembut, lalu berkata, "Tunggu sebentar. Aku punya sesuatu untukmu." Isaiah hanya bisa menatap heran saat Summer pergi ke belakang toko. Tidak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah benda kecil di tangannya sebuah pemutar kaset tua, tertutup sedikit debu namun tampak masih dalam kondisi baik. Summer memandang benda itu sejenak sebelum menyerahkannya ke Isaiah, "Aku ingin kamu memilikinya," kata Summer dengan suara lembut namun tegas. Isaiah dengan raut wajah yang terkejut. "Ini... pemutar kaset milikmu?, Kenapa kamu memberikannya padaku?", Summer tersenyum, sedikit ragu sebelum menjelaskan. "Ini adalah salah satu pemutar kaset favoritku. Orang tuaku memberikannya saat aku masih kecil, dan aku selalu menyimpannya karena lagu-lagu di dalamnya... mengingatkanku pada rumah, pada momen-momen bahagia. Tapi aku merasa... kamu akan lebih menghargainya. Kamu mengerti bagaimana perasaan yang datang dengan musik analog, seperti aku.".
Isaiah memegang piringan hitam itu dengan penuh rasa hormat, menyadari betapa pentingnya benda ini bagi Summer. Di tengah rasa terkejutnya, ia merasa tersentuh. Benda ini lebih dari sekadar piringan hitam benda ini adalah bagian dari hidup Summer, sebuah kenangan berharga yang ia percayakan kepada Isaiah., "Summer... aku tidak tahu harus berbicara apa. Terima kasih banyak. Aku akan merawatnya sebaik mungkin," jawab Isaiah dengan tulus. Summer tersenyum kecil. "Aku tahu kamu akan menjaganya. Aku harap, kapan pun kamu mendengarkan lagu-lagu di dalamnya, kamu akan ingat kota kecil ini... dan aku.", Isaiah tersenyum dan mengangguk pelan. "Aku pasti akan selalu ingat.". Hari itu terasa seperti penanda bagi hubungan mereka, seolah pertemuan dan obrolan kecil yang mereka lakukan selama ini akhirnya mencapai titik baru, walaupun mereka baru bertemu Summer telah memberikannya sesuatu yang sangat berarti, bukan hanya benda fisik, tapi juga kepercayaan dan kenangan yang datang bersama pemutar kaset itu.
Malam itu, Isaiah kembali ke rumah neneknya dengan hati yang penuh. Ia duduk di kamar, memutar piringan hitam yang diberikan Summer, membiarkan musik membawanya larut dalam kenangan dan suasana kota kecil itu.
Bab III
"Goodnight Summer"
Hari ketiga dari lima hari yang tersisa, Isaiah memutuskan untuk mengunjungi toko itu lagi tapi anehnya sekarang Summer tidak ada disana dan digantikan oleh orang lain. Isaiah bertanya kepada karyawan disana "Hai!, apakah kau melihat Summer?, biasanya dia berjaga dikasir tapi hari ini dia tidak disana". Karyawan itu menjawab "Oh... wanita yang itu ya, seperti nya dia mengambil cuti hari ini jadi dia tidak berkerja". Isaiah merasa sedikit kecewa saat mendengar jawaban dari karyawan toko. Selama beberapa hari terakhir, Summer sudah menjadi bagian penting dari hari-harinya di kota kecil itu, dan ketidakhadirannya membuat Isaiah merasa ada yang hilang. Setelah berbincang sebentar dengan karyawan toko, ia keluar dan berdiri sejenak di depan pintu, merenung. Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan mengapa Summer mengambil cuti tiba-tiba? Apa yang sedang dilakukannya hari ini?. Setelah beberapa saat berdiri di luar, Isaiah memutuskan untuk tidak menyerah. Ia merasa terdorong untuk mencari Summer, meskipun ia tak tahu pasti di mana harus mencarinya. Nalurinya mengatakan bahwa ia tidak boleh hanya duduk diam. Lagipula, waktunya di kota ini hampir habis, dan ada sesuatu yang belum selesai antara mereka berdua.
Isaiah mulai berjalan menyusuri kota kecil itu, berharap menemukan petunjuk tentang keberadaan Summer. Ia berpikir mungkin Summer memiliki tempat favorit selain toko musik, tempat di mana ia bisa menikmati ketenangan. Setelah berjalan tanpa arah selama beberapa jam, Isaiah memutuskan untuk bertanya kepada beberapa penduduk lokal yang tampaknya mengenal Summer."Maaf, apakah kamu tahu di mana Summer biasanya menghabiskan waktunya di luar jam kerja?" tanyanya kepada seorang penjual kopi di pinggir jalan, “Oh, Summer? Ya, aku sering melihatnya di taman di pinggiran kota. Dia suka duduk di sana sendirian sambil mendengarkan musik,” jawab penjual kopi itu ramah, Isaiah tersenyum lega, akhirnya mendapatkan petunjuk yang ia cari. Ia mengucapkan terima kasih dan segera berjalan menuju taman yang disebutkan. Taman itu terletak tidak terlalu jauh dari kota, sekitar 15 menit berjalan kaki. Saat ia tiba di sana, matahari mulai terbenam, memberikan cahaya keemasan yang indah di sekitar taman yang tenang. Dari kejauhan, Isaiah melihat sosok Summer duduk di bangku taman di bawah pohon besar. Ia terlihat tenang, dengan perekam kaset di pangkuannya, mendengarkan musik dengan earphone terpasang di telinganya. Melihatnya seperti itu, Isaiah merasa lega dan sedikit tersenyum. Ia berjalan mendekat dengan hati-hati agar tidak mengganggu ketenangan Summer.
Ketika ia sudah cukup dekat, Summer akhirnya menyadari kehadirannya. Ia mengangkat kepalanya, melepas earphone yang ia kenakan, dan tersenyum kecil saat melihat Isaiah."Hai, Isaiah. Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?" tanyanya dengan nada lembut namun sedikit terkejut, Isaiah tertawa kecil "Aku mencari ke seluruh penjuru kota. Sepertinya kamu sulit ditemukan hari ini."Summer tertawa pelan dan menepuk tempat kosong di sebelahnya di bangku taman. Isaiah duduk di sampingnya, merasakan ketenangan yang sama dengan Summer. Mereka duduk dalam keheningan untuk beberapa saat, hanya mendengarkan suara angin yang berhembus lembut melalui pepohonan dan burung-burung yang bernyanyi di kejauhan. "Aku hanya butuh waktu sendiri hari ini," kata Summer akhirnya, memecah keheningan. "Terkadang, aku merasa perlu melarikan diri sebentar dari segalanya. Musik membantuku. Rasanya... seperti bisa menghentikan waktu, setidaknya untuk beberapa saat.". Isaiah terdiam sejenak, menyadari bahwa Summer benar. Waktunya di kota kecil ini memang terbatas, dan perasaan cemas itu mulai merayap di dalam dirinya. "Aku tidak ingin pergi tanpa merasa aku benar-benar mengenalmu," kata Isaiah dengan nada jujur. "Aku merasa kita punya banyak kesamaan, dan aku tidak ingin hubungan ini berakhir begitu saja." Summer tersenyum kecil, meskipun ada sedikit kesedihan di matanya. "Aku juga merasa begitu Isaiah. tapi hidup kita berbeda kamu punya duniamu, aku punya duniaku di sini. Meskipun kita sudah nyaman, aku tidak tahu apa yang bisa kita lakukan soal itu."
Isaiah menarik napas dalam-dalam, merasakan betapa rumit situasi ini. Namun, ia tak ingin membiarkan perasaan berat ini merusak momen berharga yang masih mereka miliki. "Mungkin kita tidak tahu jawabannya sekarang," kata Isaiah akhirnya, "tapi aku senang bisa bertemu denganmu. Dan aku tidak akan melupakan semua momen ini.". Summer menatapnya, lalu mengangguk. "Aku juga tidak akan lupa. Kamu... berbeda dari orang lain, Isaiah. Aku merasa nyaman bersamamu.". Mereka berdua duduk di bangku taman itu, menikmati sisa sore yang tersisa. Angin membawa keharuman bunga-bunga, dan musik dari perekam kaset Summer menjadi latar belakang sunyi bagi kebersamaan mereka. Sore itu, mereka tak banyak bicara lagi, membiarkan keheningan berbicara lebih dalam dari kata-kata. Meski waktu Isaiah di kota kecil itu semakin menipis, ia tahu bahwa hubungan mereka meski singkat akan selalu ada di hatinya, seperti melodi indah yang terus berputar di piringan hitam tua atau kaset pita yang tak pernah benar-benar habis.
Malam mulai merayap pelan-pelan, menggantikan cahaya senja dengan langit yang perlahan memudar menjadi biru tua, dihiasi oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip. Di taman yang sunyi itu, Isaiah dan Summer masih duduk di bangku, tenggelam dalam suasana yang tenang. Suara musik dari perekam kaset Summer masih samar-samar terdengar, menciptakan harmoni dengan suara alam di sekitar mereka. Isaiah memandang Summer dari samping, menyadari betapa nyaman ia merasa di sini, di samping seseorang yang begitu memahami kesukaannya terhadap musik dan benda-benda antik. Ada keakraban yang terasa begitu alami, meski waktu mereka bersama begitu singkat. “Kamu sering datang ke sini sendirian?” tanya Isaiah perlahan, memecah keheningan,Summer mengangguk. “Ya, ini tempat favoritku. Aku bisa mendengarkan musik tanpa gangguan. Di sini, semuanya terasa lebih tenang. Rasanya seperti dunia luar menghilang, dan yang tersisa hanya aku, musik, dan alam.”. Isaiah menatap taman itu, mengerti kenapa Summer begitu menyukai tempat ini. Tempat ini benar-benar memiliki ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Ia juga merasa bahwa malam ini akan menjadi salah satu kenangan yang akan selalu ia ingat tentang kota kecil ini—tentang Summer. “Ini mungkin malam terakhir aku bisa santai seperti ini,” kata Isaiah dengan suara pelan, sedikit tersenyum pahit. “Besok aku mulai mengemas barang-barang. Rasanya berat juga harus pergi.”. Summer memandangnya sejenak sebelum menunduk kan kepalanya, merasakan perasaan yang sama. “Aku tahu. aku juga merasa sedikit aneh. kamu datang dengan tiba-tiba, membawa kehangatan, dan tiba-tiba juga kamu akan pergi.”. Mereka terdiam kembali, masing-masing tenggelam dalam pikirannya. Tapi mereka tahu bahwa malam ini, tidak ada gunanya meratapi perpisahan yang semakin mendekat. Mereka hanya perlu menikmati momen yang tersisa, tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi nanti.
Waktu berlalu, dan perlahan, udara malam semakin dingin. Summer mengusap lengannya yang sedikit menggigil, dan Isaiah menyadari bahwa sudah saatnya mereka pulang. “Sudah larut,” kata Isaiah sambil berdiri dari bangku. “Aku rasa kita harus pulang sekarang.” Summer juga bangkit dari tempat duduknya, tersenyum kecil “Ya, sepertinya begitu.”. Mereka berjalan beriringan menuju jalan keluar taman. Langkah-langkah mereka lambat, seakan tak ingin meninggalkan suasana malam itu. Ketika mereka sampai di jalan utama, di mana jalan mereka harus berpisah, Isaiah berhenti dan menatap Summer. “Terima kasih untuk hari ini, dan untuk segalanya,” kata Isaiah dengan tulus. “Aku tidak akan melupakan waktu-waktu yang kita habiskan bersama.”. Summer tersenyum, meski matanya sedikit berkaca-kaca. “Aku juga tidak akan lupa. Kamu adalah salah satu orang yang paling berkesan yang pernah aku temui. Meski kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi setelah ini, aku senang bisa mengenalmu, Isaiah.”
Mereka saling berpandangan sejenak, membiarkan kata-kata mereka menggantung di udara malam. Ada banyak hal yang tak terucapkan, namun keheningan di antara mereka sudah cukup menjelaskan perasaan yang ada. Isaiah mengulurkan tangan, dan Summer menyambutnya dengan hangat. Mereka berjabat tangan dengan erat, seolah mengunci kenangan dan perasaan di dalam genggaman itu. Setelah itu, Summer perlahan melepaskan tangannya dan memberi senyum terakhir sebelum melangkah pergi. Isaiah menatap punggung Summer yang menjauh, merasa berat melihatnya pergi. Namun ia tahu, ini adalah akhir dari sebuah babak yang indah dalam liburannya. Summer akan selalu menjadi bagian dari kenangan musim panasnya di Colorado, seperti lagu indah yang tersimpan di kaset pita yang tak akan pernah ia lupakan. Saat Summer menghilang di tikungan, Isaiah menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk pulang ke rumah neneknya. Malam itu terasa penuh—penuh dengan rasa syukur atas pertemuan yang tak terduga, penuh dengan kenangan yang akan ia bawa pulang, dan penuh dengan perasaan yang meski sulit dijelaskan, tetap akan hidup di dalam dirinya. Langkah-langkah Isaiah menyusuri jalanan kota yang sepi, ditemani suara lembut angin malam dan bayangan Summer yang terus ada di pikirannya.
Bab IV
"Thank You Summer, Again"
Summer, yang sedang merapikan rak kaset, menoleh ke arah pintu dan jantungnya berdegup lebih cepat ketika melihat siapa yang masuk. Isaiah. Dia akhirnya datang. “Isaiah…” suara Summer hampir berbisik, dan ia berdiri di tempatnya, sedikit tak percaya bahwa Isaiah benar-benar muncul. Isaiah tersenyum kecil, berjalan perlahan ke arah kasir tempat Summer berdiri. “Hai,” sapanya dengan nada lembut. “Aku tidak bisa pergi tanpa mampir dulu. Rasanya tidak benar kalau aku pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.”. Summer menatapnya, ada kelegaan yang terpancar dari matanya, meski ada juga kesedihan yang terselip di dalamnya. Ia tahu hari ini akan datang, tapi tidak menyangka betapa berat rasanya ketika benar-benar terjadi. “Terima kasih sudah datang,” kata Summer, suaranya terdengar sedikit serak. “Aku kira… kamu sudah pergi.”, Isaiah menggelengkan kepalanya. “Belum. Aku tidak bisa pergi tanpa bertemu dengan dirimu dulu.” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Ini hari terakhirku di sini, Summer. Besok pagi aku harus kembali ke rumah.”, Summer mengangguk, meskipun ia sudah tahu itu dari awal, mendengar Isaiah mengatakannya membuat semuanya terasa lebih nyata. Ada perasaan berat di dadanya, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. “Aku akan merindukanmu, Isaiah,” kata Summer dengan jujur. “Kota ini… akan terasa berbeda tanpa kamu.”. Isaiah tersenyum, meski matanya menyiratkan rasa yang sama. “Aku juga akan merindukanmu. Dan kota ini. Semua kenangan yang kita buat di sini… aku tidak akan melupakannya”
Mereka berdiri di sana, di tengah toko musik yang sunyi, dikelilingi oleh kaset-kaset dan piringan hitam yang dulunya menjadi penghubung mereka. Isaiah tahu bahwa ia harus pergi, tetapi rasanya begitu sulit untuk melangkah. “Summer,” Isaiah akhirnya berkata, “Terima kasih untuk semuanya. Kamu telah membuat liburan ini jadi lebih berharga daripada yang pernah aku bayangkan.”, Summer menunduk sebentar, berusaha menahan perasaan yang membanjiri hatinya. “Kamu juga, Isaiah. Kamu membuat semuanya jadi lebih hidup. Aku harap kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti.”, Isaiah mengangguk, meski di dalam hatinya ia tidak yakin apakah itu mungkin. “Aku harap begitu juga.”. Summer mendekat, lalu tanpa berkata-kata, ia memeluk Isaiah. Pelukan itu singkat, tetapi penuh makna. Ada perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya terikat dalam kehangatan pelukan itu. Setelah berpisah, Summer tersenyum lembut, dan Isaiah balas tersenyum. Mereka tahu bahwa momen ini mungkin adalah yang terakhir kali mereka bertemu di kota kecil ini. Namun, kenangan mereka akan terus hidup, tersimpan dalam lagu-lagu yang akan selalu mereka dengarkan. Isaiah berbalik, melangkah keluar dari toko musik untuk terakhir kalinya. Pintu tertutup di belakangnya, dan bel kecil di atasnya berdering lembut. Summer menatap pintu yang kini tertutup, merasa berat di dalam hatinya. Meski ia tahu bahwa Isaiah harus pergi, rasanya tetap sulit untuk menerima kenyataan itu. Isaiah berjalan menjauh dari toko, melewati jalan-jalan yang kini penuh dengan kenangan. Dengan setiap langkah yang ia ambil, ia tahu bahwa meski hari ini berakhir, kenangan tentang Summer, musik, dan kota kecil ini akan selalu ada di dalam hatinya, seperti melodi yang tak pernah benar-benar pudar. Dan di dalam toko musik yang sunyi, Summer tetap berdiri, mengingat setiap momen yang telah mereka bagi. Meskipun mereka harus berpisah, ia tahu bahwa Isaiah akan selalu menjadi bagian dari musik yang ia dengarkan setiap hari seperti sebuah melodi kenangan yang akan terus berputar, selamanya.
Bab V
"Goodbye Summer"
Keesokannya, hari ini adalah hari dimana Isaiah berpisah dengan semua yang ia cintai mulai dari pemandangan kotanya sampai Summer sendiri. Langit Colorado tampak cerah, namun ada kesan kesunyian yang menggantung di udara. Ini adalah hari terakhir Isaiah di kota kecil yang menyimpan begitu banyak kenangan indah selama liburannya. Rumah neneknya tampak tenang, seperti memahami bahwa cucunya akan pergi. Koper Isaiah sudah siap di depan pintu, dan bus yang akan mengantarnya kembali ke rumahnya di kota besar akan segera tiba. Isaiah keluar dari rumah dengan perasaan campur aduk. Ada kegembiraan untuk kembali ke kehidupannya yang biasa, tetapi juga ada kesedihan yang tak bisa ia abaikan. Pemandangan bukit-bukit yang mengelilingi kota kecil ini, jalanan yang tenang, bahkan udara segar yang ia hirup—semuanya akan segera menjadi kenangan. Dan tentu saja, Summer, yang dalam beberapa hari terakhir ini telah membuat liburannya begitu istimewa. Saat ia tiba di halte bus, tempat bus akan menjemputnya, Isaiah berdiri diam sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengukir pemandangan kota ini dalam pikirannya untuk terakhir kalinya. Namun, saat itu, ia juga sadar bahwa ada satu orang yang masih belum ia temui pagi ini, Summer.
Isaiah menatap jalanan di sekitarnya, berharap, meskipun ia tahu bahwa mungkin Summer tak akan datang. Mereka sudah mengucapkan selamat tinggal di toko musik kemarin, dan Isaiah tidak ingin membuat perpisahan ini lebih sulit dari yang sudah terjadi. Tapi, tepat ketika ia hampir menyerah, dari kejauhan, Isaiah melihat sosok yang familiar berlari ke arahnya. Summer. Napasnya terengah-engah saat ia mendekat, dan wajahnya penuh kelegaan meski terlihat lelah karena berlari. "Isaiah!" panggil Summer dengan suara yang sedikit tergesa, sebelum akhirnya sampai di depannya. "Aku... aku tidak bisa membiarkan kamu pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.", Isaiah terkejut melihatnya, tetapi juga merasa lega. "Summer... aku tidak menyangka kamu akan datang.". Summer tersenyum meski matanya sedikit berkaca-kaca. "Aku juga tidak tahu kenapa, tapi aku merasa aku harus datang. Aku tidak bisa membiarkan kamu pergi begitu saja. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.", Isaiah menatapnya dengan tenang, mendengarkan setiap kata yang akan keluar dari mulut Summer. Ia tahu bahwa ini mungkin akan menjadi kata-kata terakhir yang mereka tukarkan sebelum ia pergi.
Summer menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Isaiah, kamu mungkin hanya berada di sini selama beberapa hari, tapi itu sudah cukup untuk membuatku merasa bahwa kita terhubung dalam cara yang sangat berarti. Aku tahu kita punya hidup yang berbeda, dan mungkin kita tak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama, atau bahkan mungkin takkan pernah... tapi aku ingin kamu tahu bahwa kamu selalu punya tempat di sini, di hati dan ingatanku." Isaiah tersentuh oleh kata-kata itu. "Summer, kamu juga telah memberi warna dalam liburanku. Kamu membuat aku merasa seperti berada di rumah, dan aku tidak akan pernah melupakanmu atau semua yang kita alami bersama.". Mereka terdiam sejenak, hanya saling menatap dengan penuh perasaan. Perpisahan ini terasa berat, tetapi mereka tahu bahwa ini adalah sesuatu yang harus terjadi. Mereka tak bisa menahan waktu. Bus akhirnya tiba, suara mesinnya mengisi keheningan di antara mereka. Pengemudi turun untuk membantu Isaiah dengan kopernya, dan Summer menundukkan kepalanya sejenak, sadar bahwa inilah saatnya Isaiah pergi. Isaiah menatap Summer dengan senyum lembut. "Aku akan selalu mengingat hari-hari ini, dan aku janji akan mendengarkan kaset yang kamu berikan setiap kali aku merindukan kota ini.". Summer tersenyum kecil, meski air mata mulai menggenang di matanya. "Aku harap setiap kali kamu mendengarkan lagu itu, kamu akan mengingat aku dan kota ini.", Isaiah mengangguk. "Pasti. Terima kasih, Summer, untuk semuanya.". Ia berjalan menuju bus, lalu, sebelum menaiki tangga, ia menoleh sekali lagi ke arah Summer. Tanpa berkata-kata, mereka saling mengucapkan selamat tinggal dalam pandangan terakhir mereka. Summer mengangkat tangannya, melambaikan perpisahan, sementara Isaiah balas melambaikan tangannya, merasa berat untuk benar-benar berpisah.
Begitu Isaiah masuk ke dalam bus, Summer tetap berdiri di sana, menatap bus yang perlahan mulai bergerak. Jendela bus memperlihatkan Isaiah yang duduk di kursinya, dan Summer bisa melihatnya menatap keluar, menatap dirinya untuk terakhir kalinya.Saat bus mulai menjauh, Summer merasakan air mata mengalir di pipinya. Namun, ia juga merasa ada kedamaian dalam perpisahan ini. Meski singkat, pertemuan mereka telah memberikan sesuatu yang tak ternilai, sesuatu yang akan selalu ia ingat.Isaiah, di dalam bus, menatap jalanan yang ia lalui untuk terakhir kalinya. Pikirannya dipenuhi oleh kenangan tentang Summer, tentang toko musik, dan tentang semua yang ia alami selama berada di kota kecil ini. Meski ia pergi, ia tahu bahwa Summer akan selalu menjadi bagian dari kenangan yang berharga, seperti lagu yang tak pernah benar-benar berakhir. Dan saat bus itu melaju semakin jauh, menghilang dari pandangan, Summer berbisik pelan pada dirinya sendiri, "Selamat jalan, Isaiah...".
~FIN~
Comments
Post a Comment